Wajib Diketahui Inilah Hukum Pajak Dalam Islam

Sebagai warga negara yang baik di Indonesia sudah sepantasnya kita membayar pajak sesuai aturan yang berlaku. Semua orang sudah pasti mengenal pajak mengingat ada banyak jenis pajak di Indonesia. Pajak adalah sebuah pungutan dari rakyat untuk negara. Pungutan tersebut bersifat wajib sehingga semua rakyat harus membayarkan pajaknya. Tujuan dipungutnya pajak adalah untuk membiayai belanja pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk mensejahterakan rakyat.

Uang pajak tidak untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan umum. Dengan adanya uang pajak itulah pemerintah mampu mendanai pembangunan yang ada di pusat maupun di daerah. Uang pajak juga bisa digunakan untuk membiayai anggran pendidikan, kesehatan, dan berbagai kegiatan produktif lainnya. Semua orang memiliki kewajiban untuk membayarkan pajak untuk negara. Dalam hal pemungutannya ini pajak memang terbilang dipaksakan mengingat telah diatur di dalam Undang – Undang.

Pemberlakuan panjak tidak hanya di Indonesia saja melainkan beberapa negara lain juga memberlakukan sistem pajak untuk negara. Adanya pajak ini memang sangat baik untuk kepentingan bersama. Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai adanya pajak? Apakah pajak diperbolehkan? Kali ini kita akan membahas mengenai hukum pajak menurut Islam. Seperti yang kita tahu bahwa pajak bersifat memaksa dan membebani rakyat mungkinkan pajak termasuk haram? Simak penjelasannya hingga selesai. Temukan juga penjelasan lebih lanjut melalui situs seruni.

Penerapan Sistem Pajak di Pemerintahan

Pajak merupakan kontribusi wajib untuk negara yang dibebankan kepada pribadi maupun badan yang memiliki sifat memaksa. Pajak telah diatur di dalam Undang – Undang sehingga harua ditaati oleh seluruh rakyat yang mendiami negara tersebut. Walaupun seluruh rakyat telah membayarkan uang pajak namun tidak ada imbalan secara langsung yang diberikan. Uang pajak yang dikumpulkan tersebut nantinya akan dikembalikan kepada rakyat dengan bentuk kesejahteraan.

Jenis pajak yang bisa kita temui cukup beragam. Namun tidak semua orang memiliki jenis tanggungan pajak yang sama. Pajak yang ditanggungkan kepada setiap pribadi disesuaikan dengan kebutuhannya. Seseorang yang terbebani pajak tentu sudah melalui syarat objektif dan juga subjektif. Biasanya pajak dibebankan kepada orang yang telah memiliki penghasilan.

Walaupun anda telah memiliki penghasilan belum tentu anda mendapatkan pajak. Hal ini dikaranakan pajak yang dipungut berdasarkan penghasilan memiliki batas minimal dimana seseorang memiliki pendapatan di atas Rp 4,5 juta setiap bulannya. Jika anda termasuk orang dengan gaji di atas Rp 4,5 juta sebulan anda akan terkena pajak. Itulah pajak yang diambil dari segi penghasilan anda, sehingga tidak semua orang dipungut pajak berdasarkan penghasilan. Masih ada juga pajak yang diambil dari pendapatan bisnis anda, jika anda seorang pengusaha atau wirausaha. Ada pajak yang harus anda bayarkan.

Bagi anda yang memiliki usaha cukup besar dimana mampu menghasilkan pendapatan cukup besar maka anda akan terkena pajak. Misalnya anda seorang pengusaha dimana mampu mendapatkan omzet mencapai Rp 4,8 miliar dalam satu tahun maka ada pajak yang harus dibayarkan. Biasanya tarif PPh final 0,5 % yang akan anda keluarkan untuk pajak usaha anda. Itulah contoh dari pajak yang diambil dari pribadi. Masih ada banyak bentuk pajak yang harus dibayarkan setiap pribadi yang tentunya tanggungan pajak satu orang dengan yang lainnya berbeda. Contoh pajak yang bisa anda temukan seperti pajak kendaran, pajak penjualan barang mewah, pajak bumi dan bangunan, dan beberapa pajak lainnya. Itulah beberapa pajak yang sudah di atur di dalam Undang – Undang.

Hukum Pajak Menurut Islam

Jika dilihat dalam peraturan pemerintah sudah pasti pajak menjadi salah satu hal yang terbilang wajib dilaksanakan. Membayar pajak juga menjadi salah satu bentuk kita menjadi warga negara yang baik. Walaupun bersifat memaksa namun segala hal yang telah diatur di dalam Undang – Undang wajib kita taati. Lalu bagaimanakah hukum pajak menurut Islam? Menurut Islam pajak memang merupakan kegiatan yang zalim. Mengingat seseorang telah memaksakan atas harta orang lain. Bahkan dalam Islam sangat dilarang untuk memakan harta orang lain. Pajak termasuk cara memakan harta orang lain secara batil.

Memang jika diperhatikan sistem pajak memang bersifat memaksa semua orang untuk membayarkan uang untuk negara. Tentu dalam Islam sangat tidak diperbolehkan memakan harta orang lain. Namun Islam juga menjelaskan bahwa sebagai warga negara yang baik tentu harus mengikuti aturan kepemimpinan yang ada. Sehingga menjalankan pajak menjadi hal yang harus dijalankan semua orang. Mengikuti perintah dari kepemimpinan sudah menjadi hal wajib yang harus dilakukan termasuk mengikuti aturan yang sudah ditentukan.

Kesimpulannya adalah hukum pajak di dalam Islam adalah diperbolehkan. Menjadi seorang warga negara membuat kita harus mengikuti aturan dari kepemimpinan. Seorang muslim tetap harus mengikuti kepemimpinannya selama pimpinannya yang muslim dimana perintahnya bukan merupakan kemaksiatan. Itulah hukum pajak menurut Islam. Walaupun semua hal telah di atut di dalam Undang – Undang namun semua peraturan tersebut telah dilaksanakan sesuai aturan agama. Itulah yang menjadi alasan bahwa sistem pajak hingga saat ini masih berlaku di Indonesia.

Kisah Nabi Hud, Nabi yang Berusaha Menyadarkan Kaumnya dari Kesesatan Berhala

Sebagai muslim yang taat, kita wajib untuk mengimani kisah-kisah para Nabi dan kaumnya yang diceritakan di dalam Al-Qur’an sebagai pemberi peringatan. Salah satu Nabi yang wajib kita ketahui adalah Nabi Hud AS. Kisahnya pun tidak kalah menarik dibanding kisah-kisah Nabi lainnya yang lebih terkenal. Yuk, langsung saja simak kisah Nabi Hud AS dalam perjuangannya berdakwah mengajak kaumnya kembali ke jalan Allah SWT.

Siapa Itu Nabi Hud AS?

Di dalam Al-Qur’an, nama Nabi Hud AS setidaknya disebutkan sebanyak 7 kali dan namanya diabadikan dalam sebuah surat dengan nama QS Hud. Salah satu Nabi dan juga Rasul yang Allah utus untuk meluruskan keimanan Suku ‘Ad di jazirah Arab ini bernama Hud Bin Abdullah Bin Rabah Bin Khulud Bin ‘Ad Bin Ush Bin Iram Bin Sam Bin Nuh AS. Dilihat dari silsilahnya, maka sudah jelas bahwa Nabi Hud adalah keturunan dari Nabi Nuh AS.

Diperkirakan, Nabi Hud AS hidup antara tahun 2450 sampai 2320 SM di daerah Al Ahqaaf (berbukit dan berpasir) yang ada di Yaman. Beliau kemudian diangkat menjadi Nabi pada tahun 2400 SM. Lahir di Hadramaut, Nabi yang merupakan keturunan dari putra Nabi Nuh bernama Sam ini wafat pada usia 472 tahun dan dimakamkan juga di Hadramaut.

Kaum Nabi Hud merupakan sebuah kaum suku tertua sesudah Nabi Nuh. Berdasar asal muasalnya, kaum ini adalah keturunan mereka yang selamat bersama Nabi Nuh AS setelah musibah air bah yang melenyapkan seluruh kaum kafir di muka Bumi. Anak-anak Nabi Nuh yang selamat ini bernama Ham, Sem, dan Yafet, sedangkan Kan’an tidak selamat karena tidak beriman.

Mereka yang selamat ini berpencar dan melahirkan anak cucu untuk menjadi suku, kaum, dan bangsa-bangsa yang mana berkembang melahirkan banyak tradisi yang berbeda-beda. Keturunan Ham dikatakan menjadi cikal bakal Suku Qibti di Mesir dan beberapa suku di Afrika. Adapun keturunan Yafet melahirkan orang-orang Shaqabilah dan Turki, sedangkan keturunan Sem melahirkan orang-orang Persia, Romawi, dan Arab.

Nah, salah satu keturunan Sem Bin Nuh inilah yang kemudian memiliki keturunan lagi bernama Iram yang mana dikenal dengan bangunan-bangunan mereka yang tinggi dan tidak pernah ada di negeri lainnya. Hal ini disebutkan dalam QS Al-Fajr ayat 7 dan 8. Iram kemudian menjadi asal muasal dari Suku ‘Ad yang mana terbagi menjadi dua suku lagi, yakni Kaum ‘Ad Nabi Hud AS dan Kaum Tasmud Nabi Sholeh AS.

Disebutkan, perawakan Kaum ‘Ad sanagat tinggi, besar, dan kuat serta terberkahi dengan kecerdasan. Dibarengi dengan kekayaan alam yang melimpah di tempat tinggal mereka, Kaum ‘Ad mengukir bebatuan untuk tempat tinggal mereka. Sayangnya dari semua suku di jazirah Arab, Kaum ‘Ad adalah kaum yang pertama menyekutukan Allah sesudah kejadian air bah.

Mereka yang mendiami daerah diantara Yaman dan Oman serta di sebelah utara dari Hadramaut ini membuat 3 buah berhala bernama Shamad, Huran, dan Shamud dan menyembahnya. Mereka meminta kebahagiaan, kebaikan, dan keuntungan serta perlindungan dari kemalangan kepada berhala tersebut. Hal ini disebutkan dalam QS Al-Ahqaaf ayat 21.

Sesuai perintah Allah, Nabi Hud menyeru kepada mereka untuk segera bertobat. Sayangnya menurut Ibnu Katsir dalam Tafsierul Quranil Adziem, Kaum ‘Ad yang memiliki bangunan tinggi dan istana megah dengan benteng sulit ditembus ini tetap tidak mau beriman. Mereka tetap durhaka dan melakukan hal-hal jahat lainnya.

Kisah Perjuangan Dakwah Nabi Huds dan Mukjizat yang Dimiliki

Meski sudah bertahun-tahun Nabi Hud AS menyerukan dakwah, namun kisah nabi menyadarkan Kaum ‘Ad masih sama. Alih-alih bertobat, mereka justru semakin takabur akan nikmat Allah. Hanya ada segelintir orang saja yang bertobat dan menjadi pengikut Nabi Hud AS. Bahkan, usaha Nabi Hud yang mengajak mereka bertobat malah mendapat ancaman berupa musibah dan celaka.

Suatu ketika, terjadi kemarau panjang yang menyebabkan semuanya menjadi gersang dan serba kekeringan. Kaum ‘Ad pun mengutus rombongan agar berdoa meminta hujan di tanah Haram yang dipimpin oleh Qil Bin Anzah. Di tengah perjalanan, Qil melihat 3 gumpalan awan yang warnanya merah, putih, dan hitam dan sebuah suara memerintahkannya untuk memilih.

Qil pun dengan segera memilih awan berwarna hitam. Ia pikir awan itu adalah awan yang mengandung banyak air dan mampu mendatangkan hujan agar tanaman-tanaman mereka tersirami dan hewan-hewan ternak mereka mendapat minum. Kaum ‘Ad pun juga senang dengan awan hitam tersebut. Nabi Hud pun memperingatkan kepada kaumnya bahwa awan tersebut adalah azab dari Allah SWT.

Namun Kaum ‘Ad mengabaikan peringatan nabi mereka. Akhirnya, awan itu benar mendatangkan azab berupa angin kencang yang dingin dan tidak membawa setetes air hujan pun selama 7 hari 7 malam. Angin itu menerbangkan hewan ternak, meratakan gunung dengan tanah, dan menewaskan Kaum ‘Ad layaknya pohon-pohon yang tumbang. Tentu, hanya Nabi Hud AS dan pengikut sejatinya saja yang dapat selamat dari azab pedih ini. Semua kisah ini tertuang dalam QS Al-Ahqaf ayat 24 dan 25, QS Al-Haqqah ayat 6 dan 7, dan juga QS Al-A’raaf ayat 72.

Demikian kisah Nabi Hud. Semoga bermanfaat.